Dialog Politik Cerdas MUI, Prof Kacung Sebut Keterpilihan Masyarakat Karena Uang Sangat Kecil

0
452
POLITIK : Prof Kacung Maridjan (kiri) tampak serius sampaikan materi tentang politik kebangsaan. (Foto : Zainal/cakrawalamuslim)

CAKRAWALA MUSLIM – Menghadapi tahun politik, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik melaksanakan Dialog Politik Cerdas Bermartabat, dengan tema Politik Kebangsaan dalam Nilai-nilai Kebhinekaan, di Aula Kantor MUI Gresik, Ahad (10/9/2023).

Dalam acara yang mendatangkan narasumber Prof. H. Kacung Maridjan, M.A., Ph.D, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya ini, berlangsung cukup interaktif, karena narasumber juga tidak membatasi hal bertanya dan berargumen bagi para peserta.

Prof Kacung Maridjan membuka dialog interaktif, dengan menukil pendapat Imam al-Ghazali, yang mengatakan bahwa menjadi politisi adalah profesi yang mulia, bahkan lebih mulia daripada dokter.

“Kalau dokter itu mungkin bisa menyelamatkan nyawa 20 pasien setiap hari. Lha, politisi ketika menjalankan tugasnya dengan baik, bisa menyelamatkan ratusan bahkan jutaan orang, dengan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada masyarakat,” buka Prof Kacung.

Pria yang juga Wakil Rektor I UNUSA Surabaya ini, juga menjelaskan bahwa sebagai manusia, kita tidak bisa terlepas dari politik, mulai dari lahir sampai meninggal.

“Kita lahir, langsung dicatat oleh pemerintah, kita meninggalpun, dicatat oleh pemerintah. Lha ini semua terjadi kan karena kebijakan politik, maka dari politik ini sangat penting bagi sendi-sendi kehidupan bernegara,” jelasnya.

Prof Kacung juga menaruh perhatian khusus pada praktik money politic yang masih marak, beliau menyampaikan bahwa belum tentu masyarakat yang dikasih uang itu memilih yang ngasih.

“Ini harus jadi perhatian luas. Bahwa tingkat efektivitas money politic ternyata sangat rendah, hanya 20% dari korelasi terpilihnya calon,” terangnya.

Maka kita juga patut bersyukur, lanjut Prof Kacung, karena politik saat ini di Indonesia enderung cair, dalam artian potensi gesekan pendukung tidak terlalu kental.

“Indonesia itu politiknya cair, di Indonesia 30% pemilih pindah pilihan politiknya setiap pemilu, bayangkan di Amerika Serikat, hanya ada 10% persen pemilih yang berpotensi pindah parpol, itu potensi konfliknya luar biasa besar,” terang Profesor Ilmu Politik ini.

Terakhir, Prof Kacung mengajak para peserta untuk menjaga kondisifitas perpolitikan di Indonesia, dan menghormati setiap pemimpin yang terpilih pada Pemilu 2024 mendatang.

“Jadi siapa saja yang terpilih, menghormati yang berkuasa sangat penting, karena pada tahun 2045 Indonesia akan jadi negara nomer 5 dengan kekuatan ekonomi terbesar, ini hanya bisa terjadi ketika negara kita aman, kondusif, serta punya kualitas SDM yang mumpuni,” terang Prof Kacung. (is/cm)