Mengunjungi Masjid Tertua di Tlatah Gresik.

731
1663

Oleh: Ahmad Rofiq

Islam mengajarkan bahwa nilai manusia bukan semata-mata dilihat dari kemajuan fisikal yang berhasil mereka capai, tapi juga mental dan spiritual.

Pembangunan serta perkembangan jasmani (termasuk otak) harus selalu diimbangi dengan pengembangan ruhani, sehingga orang tidak sampai terjerumus dalam sikap ‘jumawa’. Tetap sadar darimana dia berasal dan kemana dia akan kembali. Tetap sadar akan “sangkan paraning dumadi”.

Tidak mengherankan jika para penyebar Islam pada zaman dahulu selalu membangun sebuah masjid atau langgar di wilayah dakwah mereka. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman nabi Muhammad SAW hingga sekarang. Termasuk zaman Walisongo. Dengan membangun sebuah masjid, orang diharapkan tidak lupa bahwa selain menjadi Khalifah di bumi, manusia harus tetap sadar bahwa mereka adalah para “budak” Allah.

Dalam konteks Gresik, salah satu ulama yang pertama kali menyebarkan Islam adalah Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Beliau menyebarkan agama Islam di wilayah desa Leran, kecamatan Manyar Gresik. Dari kota Gresik, masih beberapa kilometer ke arah barat. Di wilayah Itu pula Maulana Malik Ibrahim mendirikan sebuah masjid. Bangunan masjid tua ini sampai kini masih berdiri dengan kokoh. Semakin lebar dan bagus sebab telah mengalami perbaikan, renovasi dan perluasan.

Masjid ini terletak di dusun Pesucinan, Leran Manyar Gresik. Beberapa ratus meter dari makam Fatimah binti Maemun ke arah selatan. Orang yang pertama kali masuk ke dalam masjid ini akan merasa agak kaget, sebab tidak seperti masjid lainnya arah masjid ini seakan miring agak ke kanan.

SUMUR KERAMAT

Peninggalan Syeikh Maulana Malik Ibrahim berupa masjid tertua di Gresik ini masih bisa ditemui hingga kini. Sebuah masjid yang di dalamnya terdapat sebuah sumur. Sumur ini diyakini banyak orang, airnya memiliki banyak keberkahan. Selain airnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, kotorannya (Jawa: linet, endut) juga bisa untuk usaha menyembuhkan beberapa penyakit kulit. Dengan cara sedikit diolesi dengan “linet” yang ada di dasar kolam itu.

Dulu sumur ini berada di luar masjid, namun setelah mengalami perluasan dan pembangunan masjid, sumur ini kini berada di dalam masjid. Di tutup dengan keramik yang ada tulisan SUMUR.

Sedangkan untuk memanfaatkan airnya, cukup dengan penampungan air di sebelahnya. Masyarakat di situ sengaja membikin sebuah kolam kecil penampung air di dekat sumur ini. Agar orang tak perlu lagi membuka sumur tua dan bersejarah itu, yang bila tidak hati-hati bisa menyebabkan rusak dan raibnya salah satu jejak sejarah itu. Sehingga generasi mendatang tidak paham dengan sejarah dan tradisinya.

Padahal mereka yang tidak paham dan mengerti sejarah akan menjadi seperti sekumpulan kera di dalam kegelapan. Mereka akan saling menggapai dan mencakar. Wallahu ‘alam bisshowab

Comments are closed.