Bicara Aswaja di Gresik dalam Tadarrus Nahdliyyah

700
1768

Gresik menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam percaturan ekonomi Global. Hal ini bisa kita lihat dari pertumbuhan sektor industri Gresik yg berkembang.

Berbagai perusahaan bertaraf internasional berdiri di Gresik, ini artinya Gresik menjadi bagian dari industri Global.

Konsekwensinya, apapun gerak perekonomian dan peradaban dunia resonansinya akan terasakan sampai ke Gresik. Begitulah ungkapan Budayawan Dr. Zastrouw Al-Ngatawi dalam Tadarrus Nahdliyyah yang diselenggarakan dalam rangka pra-Musyawarah Kerja Pengurus Cabang Nahdlatul ‘Ulama Kabupaten Gresik.

Lebih lanjut, Zastrouw menuturkan bahwa Globalisasi yang terjadi telah menimbulkan fenomena liberalisme dan materialisme yang menyebabkan terjadinya perusakan alam, eksploitasi sesama manusia dan relasi sosial yang tidak seimbang.

Di sisi lain, tekanan arus modernisme telah menyebabkan arus yang menjadi antitesis dari liberalisme yaitu munculnya gerakan fundamentalisme agama yang intoleran dan penuh kekerasan.

Gerakan ini tidak saja mengancam tatanan kehidupan, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini bisa dilihat pada gerakan ISIS, Al-Qaeda dan Organisasi garis keras lainnya yang menebar teror dan kekerasan.

Sikap fleksibel yang menjadi karakteristik Islam Aswaja dan nilai-nilai dasar NU telah melahirkan empat dasar pijakan para ‘Ulama dan ummat.

Keempat nilai dasar itu adalah Tasammuh (toleran), Tawassuth (moderat) anti ekstrimis, Tawazzun (seimbang) dan I’tidal (Adil).

Nilai-nilai tersebut bisa menjadi nilai alternatif atas terjadinya polarisasi liberalisme dengan fundamentalisme. Ini artinya nilai-nilai memiliki posisi dan fungsi yang strategis untuk mengatasi terjadinya krisis dunia akibat konflik dan kerusakan dunia.

Zastrouw juga mengatakan bahwa dalam konteks masyarakat Gresik, aktualisasi nilai-nilai NU menjadi urgent karena posisi Kabupaten Gresik yg sedemikian penting.

Senada dengan Zastrouw, Prof. Akh. Muzakki (Dekan FISIP UINSA & Sekretaris PWNU Jatim) yang juga memberikan materi dalam tadarrus kali ini mengungkapkan bahwa sebagai kota industri bertaraf Internasional, Gresik memiliki dinamika peradaban yang sangat tinggi.

Gresik salah satu pusat peradaban Islam dan pesisir. Peradaban pesisir biasanya memiliki karakter yang akomodatif dan progresif, dan cenderung lebih maju.

Gresik juga merupakan Buffer Zone dari Surabaya. Oleh karenanya, Gresik rawan dimasuki paham Islam Transnasional yang bukan Aswaja. “Apalagi kita sekarang memasuki era Revolusi Digital, hati-hati kepada anak-anak kita yg sekarang tidak lagi menjadikan ‘Ulama Aswaja sebagai referensi karena mereka belajar dari Gadget yang membuat mereka sulit membedakan berbagai paham Islam”, tukas beliau.

Dalam acara yg berlangsung di Balai Diklat PT. Petrokimia Gresik tersebut beberapa Tokoh yg hadir diantaranya KH. Mahfudz Ma’shum, KH. Chusnan ‘Ali, KH. Robbah Ma’shum, serta pengurus-pengurus dari Cabang NU Gresik dan berbagai Badan Otonomnya.
Di akhir, KH Chusnan ‘Ali menyampaikan bahwa acara ini bertujuan untuk menginspirasi PCNU yg akan menggelar musyawarah kerja pada hari Minggu, 30 Juli 2017. (AF)

Comments are closed.