Cerita Bocah Ndeso yang Kini Jadi Guru Besar

0
297

Mungkin tidak ada seorangpun yang mengira, bahwa ada bocah kelahiran Sulek Legung, Bondowoso, yang bisa menjadi Profesor. Iya, cerita ini nyata adanya, Ia adalah Abdul Chalik, Pria yang lahir tahun 1973 ini, menerobos segala keterbatasan untuk sampai di titik karir tertinggi seorang ilmuwan, yaitu menjadi Guru Besar.

Sebagaimana anak desa pada umumnya era itu, Prof. Chalik masa kecil menghabiskan waktu bersama alam. Bermain di ladang, sawah dan hutan, serta mencari burung dan mencuri buah-buahan milik tetangga adalah rutinitas lazim anak SD waktu itu. Bagaimana tidak, tempat kecil Prof. Chalik bisa di bilang sangat jauh dari peradaban. Namun itu pulalah yang membentuk pribadi kuatnya.

Bayangkan saja, untuk bisa ke sekolah SD, memerlukan waktu berjalan kaki selama 1,5 jam setiap hari, dengan melewati bukit, sawah, sungai, bahkan jurang. Kalau meminjam bahasa Beliau, “Hanya manusia pilihan yang bisa bertahan dalam situasi itu, termasuk saya”.

Benar memang, Prof. Chalik adalah anak bungsu dari 9 bersaudara, dan satu-satunya yang lulus SD waktu itu, mungkin kondisi serba terbatas itu pula, yang membuat Bapak empat anak ini, dulu punya cita-cita sederhana, yaitu ‘Tukang Jahit dan Sales Rokok’, itu wajar karena tukang jahit di desa sangat terbatas dan jasanya selalu di butuhkan, sementara sales rokok terkenal dengan baju sragam khasnya, serta mobil box dengan gaya bak orang tajir.

“Cita-cita dosen dan guru besar? Anak-anak desa tidak paham itu. Cita-cita saya waktu itu sederhana, begitu pula orang tua saya, cita-cita simpel, yang penting anaknya bisa ngaji. Titik,” begitu kira-kira penggalan cerita Beliau kepada kami.

Pasca lulus SD, Prof. Chalik diantar mondok oleh Ibunya ke Pesantren al-Falah Bondowoso, di sanalah Beliau menimba ilmu agama serta meneruskan sekolah MTs. Setelah itu, Beliau mencoba peruntungan dengan datang ke Situbondo, untuk daftar di PGAN, sekolah yang seleksinya ketat dan terbilang elit di zamannya, dan di terima.

Sambil sekolah, Beliau mondok di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Di Situdondo ini, selain mendalami ilmu agama, Prof Chalik juga banyak mengenal kehidupan, dari sinilah cara pandangnya tentang dunia mulai berubah, bahwa dunia tidak hanya tentang tukang jahit dan sales rokok.

Saat itu Beliau sangat ingin bisa kuliah di al-Azhar Mesir. Namun apalah daya, cita-cita Prof Chalik kembali kandas oleh keaadan, yang membawanya kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya, dengan penuh perjuangan pula. Ia juga menuturkan, bahwa hanya dapat cerita dari temannya Razak dan Luthfi, tentang IAIN Sunan Ampel yang masyhur dan dan memiliki reputasi kelas wahid.

Awal mengenal dunia aktivisme

Setelah lolos seleksi IAIN, Beliau yang kegirangan kemudian pulang meneui Ibunya. Tak di nyana, respon Ibu terdiam dan kemudian mengucap, “Ya mau apalagi, sebenarnya saya berdoa agar kamu tidak lolos karena biayanya dari mana”. Bukan Prof. Chalik namanya kalo menerima begitu saja. Beliau terus meyakinkan Sang Ibu, dan bertekat untuk terus melanjutkan studinya.

Bangku kuliah terus membentuk karakter kuat dalam diri Beliau. Disinilah Ia mengenal dunia aktivisme melaui Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dinamika kampus terus Ia jalani, bahkan di semester I sudah menjadi kordinator lapangan untuk demo kepada Dekan waktu itu.

Di PMII, karir Prof. Chalik terbilang konsisten, aktif dari komisariat (tingkat kampus), sampai pernah menjadi Sekretaris Umum Korcab PMII Jatim dan Ketua Panitia Kongres PB PMII di zamannya. Sampai saat inipun, beliau mengaku tidak bisa move on dari PMII, dan terus aktif di IKA-PMII hingga saat ini.

Melalui PMII pula, jiwa jurnalisme Cak Cholik terasah, Ia masuk ke pers kampus melalui Majalah Edukasi dan Tabloid Solidaritas, mulai jadi reporter sampai jadi Pimred. Melalui Solidaritas pula, Ia berjejaring dengan insan pers kampus seluruh Indonesia, sampai ikut mendirikan PPMI (Perhimpunan Pers Seluruh Indonesia) di Kaliurang 1993.

Jiwa sosial yang terbentuk melalui PMII pula, membuatnya menjadi tangguh dan tidak kenal lelah untuk mengajar dan mengabdi. Bahkan, saat masih semester 5, Ia pernah mendirikan Sekolah MA di Gempol Pasuruan, dan mengajar selama 7 tahun, serta sempat menjadi Kepala Sekolah disana. Selain itu, Ia juga pernah menjadi pengajar di MAN Surabaya, jenjang S1 di STAIDRA, INKAFA, STIT Ibrohimy, STAI al-Fitrah, dan STAIPANA, di S2 Beliau juga pernah mengajar di IAI Qomaruddin, IAI Hasyim Asyari, Unsuri Surabaya dan IAI Nurul Jadid.

Pengabdian besar di kota Santri

Di Gresik, Ia pernah mendirikan The Sunan Giri Fondation (SAGAF), tujuannya saat itu sederhana, sebagai wadah bagi kader-kader PMII pasca pengurus cabang, yang dari potensi luar biasa namun belum memiliki tempat untuk menuangkan ide dan gagasannya. Siapa sangka, tujuan tersebut meleset jauh kedepan.

SAGAF saat itu jadi NGO yang cukup di perhitungkan di Gresik, dengan fokus pada riset, pemberdayaan dan pendampingan desa. Program unggulannya The Sunan Giri Award (SGA), jadi agenda rutin Pemkab, untuk menilai desa-desa dengan tingkat pelayanan publik yang baik.

Setelah SAGAF tidak terurus, Prof. Chalik memboyong alumni SAGAF ke MUI Gresik, dimana sebagai Ketua MUI Bidang Dakwah dan ketua Tim Perumus, Ia mendesain MUI Gresik menjadi organisasi dengan tata kelola dan kematangan program yang bisa terukur, buktinya tahun 2022 MUI Gresik menjadi peringkat 1 akreditasi MUI Kabupaten oleh MUI Jatim.

Tidak hanya itu, di MUI Gresik Ia juga perintis Pesantren at-Taubah di Rutan Gresik serta mendesain pendampingan rohani dan psikologi di RSUD Ibnu Sina dan RS Semen Gresik, dan semua program tersebut terus berjalan hingga saat ini.

Dengan segala kerja keras dan pengabdiannya, begitu pantas memang, di usia 50 tahun Beliau sudah menjadi Guru Besar di bidang Politik Islam, istimewanya lagi, sat ini di Indonesia hanya ada 2 Guru Besar pada bidang tersebut, yaitu Prof. Noorhaidi Hasan S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D. dari Uin Jogja, dan Prof. Ahmad Ali Nurdin, MA., Ph.D. dari Uin Bandung, serta yang ketiga adalah Prof. Dr. H. Abdul Chalik, M. Ag UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sangat naif jika penulis tidak kagum dengannya, senior PMII satu ini memang ‘agak lain’ dalam bahasa saya, kedisiplinan ilmu dan keseharian, serta pengabdiannya menjadikan penulis untuk tidak ragu mengungkapkan rasa kagum dan takdzim, serta ucapan Selamat atas Pengukuhan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Chalik.

Penulis : Moh. Ishomuddin
Editor : Makmun