OPINI –
“Berkatalah kepada manusia dengan perkataan yang baik.” (QS. Al-Baqarah : 83)
Di balik hiruk pikuk dunia pendidikan kita, ada satu luka yang terus menganga: perundungan atau bullying. Dari ejekan fisik, body shaming, pengucilan, hingga kekerasan verbal maupun fisik, bullying masih menghantui ruang kelas. Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) mencatat sepanjang tahun 2024 ada lebih dari 3.800 kasus kekerasan terhadap anak di sekolah, di mana sekitar seperempatnya terkait langsung dengan perundungan. Angka itu tentu hanyalah puncak gunung es dari budaya kekerasan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sayangnya, bullying sering dianggap sekadar “anak-anak bercanda.” Padahal, dampaknya jauh lebih serius. Luka batin, rasa rendah diri, bahkan trauma jangka panjang bisa menghantui korban hingga dewasa. Sama seperti intoleransi, akar dari perundungan sesungguhnya adalah defisit cinta dan empati.
Bullying sebagai Defisit Empati
Seorang anak yang merundung temannya sebenarnya sedang mencari pengakuan. Ia merasa berkuasa ketika bisa merendahkan yang lemah. Namun di balik itu, ada kekosongan: kurangnya cinta pada diri sendiri dan ketidakmampuan menaruh empati.
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) hadir untuk menutup kekosongan itu. Dengan menanamkan cinta, murid diajak melihat bahwa kebahagiaan sejati lahir bukan dari merendahkan, melainkan dari menguatkan sesama.
Panca Cinta sebagai Tameng
Lima pilar Panca Cinta dalam KBC menjadi tameng menghadapi bullying:
1. Cinta kepada Tuhan membentuk spiritualitas inklusif: anak merasa diawasi sekaligus dipeluk nilai kebaikan.
2. Cinta kepada diri dan sesama menumbuhkan percaya diri sekaligus empati. Anak belajar bahwa mencintai diri bukan berarti merendahkan orang lain.
3. Cinta kepada ilmu pengetahuan melatih keterbukaan pikiran, sehingga perbedaan tak lagi jadi bahan ejekan.
4. Cinta kepada lingkungan memperluas horizon kasih sayang pada sesuatu di luar dirinya.
5. Cinta kepada bangsa menumbuhkan solidaritas dalam keberagaman, sehingga anak merasa bagian dari komunitas besar yang saling mendukung.
Jika kelima cinta ini hidup di ruang kelas, maka bullying akan kehilangan tanah subur untuk mendukung.
Guru sebagai Arsitek Jiwa
Guru memegang peran penting. Ia bukan hanya pengajar mata pelajaran, melainkan arsitek jiwa. Dalam pendekatan KBC, guru dilatih menanggapi kasus bullying secara bijak: tidak mempermalukan pelaku, tetapi juga tidak membiarkan korban merasa sendirian.
Setiap insiden perundungan bisa menjadi momen edukasi. Guru dapat mengajak murid membayangkan: “Bagaimana rasanya jika kamu diperlakukan seperti itu?” Dengan latihan empati semacam ini, anak-anak belajar merasakan luka orang lain, bukan sekadar mendengar teori.
Ruang Aman dan Komunitas Positif
Sekolah yang menerapkan KBC berusaha menciptakan ruang aman, tempat di mana murid merasa diterima apa adanya. Kegiatan lintas kelompok, proyek seni, hingga kerja sosial bisa menjadi sarana memutus rantai geng atau senioritas yang kerap melahirkan perundungan.
Ruang aman ini bukan sekadar jargon, melainkan praktik nyata: setiap murid punya hak bersuara, tidak ada yang ditertawakan karena penampilan, dan perbedaan dirayakan. Atmosfer semacam ini membuat bullying kehilangan panggung.
Dari Hukuman ke Pemulihan
Selama ini, penanganan bullying di sekolah sering berhenti pada hukuman. Pelaku diskors atau dipindahkan, sementara korban menanggung trauma seorang diri. KBC menawarkan pendekatan berbeda: mengombinasikan hukuman dengan pemulihan (restorative justice).
Dalam model ini, pelaku dipertemukan dengan korban, diminta mendengarkan luka yang ia timbulkan, dan bersama mencari jalan penyembuhan. Beberapa sekolah rujukan sudah mencoba pendekatan ini dengan hasil positif: angka kekerasan menurun, dan anak-anak belajar bertanggung jawab.
Orang Tua dan Literasi Digital
Era digital melahirkan wajah baru bullying: cyberbullying. Hinaan, ejekan, dan pengucilan kini meluncur lewat layar ponsel. Karena itu, KBC juga melibatkan orang tua. Mereka bukan hanya mengawasi anak di rumah, tetapi juga membimbing literasi digital berbasis cinta.
Anak-anak diajak menggunakan media sosial secara sehat: untuk menghargai, bukan menyakiti. Dengan keterlibatan orang tua, nilai cinta tidak berhenti di sekolah, tetapi berlanjut di rumah dan lingkungan.
Penutup
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.” (HR. Bukhari-Muslim).
Bullying bukan sekadar masalah disiplin, melainkan krisis kasih sayang. Hukuman tegas memang perlu, tetapi tidak cukup. Yang lebih penting adalah menumbuhkan empati dan cinta, agar anak-anak tumbuh sebagai generasi yang saling menguatkan, bukan saling merendahkan.
Kurikulum Berbasis Cinta menawarkan jalan itu. Cinta yang ditanam di sekolah hari ini adalah perisai terbaik bagi anak-anak dari luka perundungan.
*Penulis adalah KH. Ahmad Chuvav Ibriy, Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik, sekaligus Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik