Merdeka dari Cengkraman Luka

0
2
Merdeka bukan sekadar bebas secara lahiriah, tapi juga bebas dari luka batin yang membelenggu. (Sumber: Pixabay.com)

HIKMAH – Faktanya, tak ada satupun manusia -sehebat apapun dia kelihatannya- yang ada di dunia ini tanpa membawa koper besar berisi kisah dan cerita masa lalu hidupnya. Di balik setiap senyuman, ada potongan masa lalu yang mungkin penuh dengan air mata. Di balik setiap pencapaian yang membanggakan, ada malam-malam gelap yang tak terlihat oleh tatapan dunia.

Semua manusia memiliki lembaran-lembaran yang mungkin tak ingin mereka buka kembali. Luka, trauma, kehilangan, kegagalan atau keputusan yang mereka sesali yang dampaknya masih terus mereka rasakan dari hari ke hari. Namun masa lalu seburuk apapun bentuknya bukanlah sebuah kutukan. Masa lalu adalah bagian dari arsitektur hidup yang membentuk siapa mereka di hari ini.
Ada orang yang mungkin pernah jatuh cinta dan patah hati, mungkin dia pernah dikhianati, kehilangan orang tercinta, atau ia harus menyaksikan mimpi indahnya runtuh di depan mata. Dan itu semua sah, itu semua manusiawi.

Kesedihan bukanlah musuh, trauma bukan sebuah aib, kehilangan bukan suatu akhir. Semua itu adalah bagian dari pengalaman menjadi manusia, makhluk yang mampu merasakan secara mendalam. Justru dari pengalaman itulah muncul kedalaman, pemahaman dan kedewasaan yang tidak bisa dibeli.

Masa lalu mungkin tidak indah tapi ia penting. Masa lalu mengajarkan, membentuk dan jika diizinkan maka masa lalu bisa menyembuhkan.

Menyadari Penjajahan Luka Lama

Luka batin ataupun sebuah trauma yang tidak disadari tidak pernah benar-benar menghilang. Ia hanya bersembunyi di zona bawah sadar, menunggu momen yang tepat untuk muncul kembali dalam bentuk yang lebih samar, misalnya reaksi berlebihan atas suatu kejadian sepele`, kecemasan tanpa sebab atau perasaan hampa yang tidak bisa dijelaskan. Padahal secara lahiriah tidak ada yang kurang.

Tanpa kita sadari, banyak dari kita yang sejatinya menjalani hidup di bawah bayang-bayang atau cengkraman masa lalu. Mungkin saat ini, kita mati-matian mengejar kesuksesan, kita bekerja keras banting tulang siang-malam demi mengumpulkan “cuan”, namun semua itu kita lakukan demi sebuah pembuktian atau mendapatkan pengakuan bahwa kita orang yang sukses dan berhasil secara finansial. Usut punya usut, karena di masa lalu kita pernah dihina dan diremehkan orang sebagai orang melarat atau pecundang.

Apakah kita salah? Tidak juga, ferguso. Namun jika langkah-langkah kita di-drive oleh luka batin atau trauma di masa lalu dan bukannya untuk merayakan dan mensyukuri hidup ini, saat telah mencapai segalanya pun kita akan tetap merasa hampa.

Tubuh kita pun tidak diam, ia merekam segalanya. Amarah yang dipendam, tangisan yang tertahan, kata-kata yang tak pernah terucap, ketakutan yang terus ditekan dan sebagainya. Biokimia kita berubah mengikuti emosi yang belum selesai. Ketika kenangan pahit muncul, luka lama atau trauma kembali mencuat ke permukaan, tubuh kita pun bereaksi seolah itu sedang terjadi di saat ini. Inilah mengapa sebuah percakapan kecil bisa memicu sebuah ledakan ke-murkaan. Atau kita berusaha menghindari pertemuan dengan seseorang atau suatu tempat hanya karena orang atau tempat itu akan kembali mengingatkan kita pada sebuah luka.

Luka lama yang tidak disembuhkan bisa mencuri kedamaian hari ini. Ia menyusup dalam keputusan, membuat pola relasi, bahkan menentukan seberapa layak kita merasa bahagia. Namun kabar baiknya, kita bisa memerdekakan diri kita dari jajahan atau cengkraman luka lama. Dan langkah pertama menuju kemerdekaan atau kebebasan adalah: kesadaran.

Saat kita berani berjuang, kita mulai berani melihat luka-luka itu tanpa menghakimi, kita membuka pintu bagi penyembuhan. Kita berhenti menjadi korban cerita lama dan mulai menjadi penulis cerita baru untuk hidup kita ke depannya.
Masa lalu bukanlah penjara. Luka lama dan trauma tidak seharusnya terus kita beri otoritas untuk menjajah dan mengendalikan arah hidup kita. Masa lalu bahkan bisa menjadi bahan bakar, bukan bahan bakar untuk balas dendam, tetapi untuk penciptaan masa sekarang dan juga masa depan yang lebih gemilang.

Mari menjadikan luka lama sebagai pelatihan jiwa, mari kita konversi rentetan kegagalan sebagai peta, mari menjadikan kehilangan sebagai alasan untuk lebih menghargari yang masih ada. Sebab seringkali dari tempat yang hancur berantakan, lahir keindahan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Hidup masihlah koma, saudara, cerita kita belumlah usai. Mungkin justru hari ini adalah paragraf pertama dari bab terbaik hidup kita. Merdeka…!

*Penulis adalah Ahmad Rofiq, M.Pd.I, Pengurus Komisi Dakwah, Penelitian dan Pengembangan Masyarakat MUI Kabupaten Gresik.