ROMADHON TANPA MERCON (Ibadah puasa di tengah kecamuk perang melawan Corona)

178
442

Oleh: Ahmad Rofiq*

Menjelang berbuka puasa, Kiai Tamijo membuka pintu musolla. Ia kemudian membersihkan dan menyapu bangunan yang hampir seminggu dikosongkan tersebut. Di tengah kesibukan menyapu, tiba-tiba Wak Kamrun, salah satu jamaah Kiai Tamijo datang
“Yi, bagaimana to ini. Kok musolla sampean tutup terus. Tidak ada jamaah, tak terawih, tak ada darusan??”
Kiai Tamijo pun meletakkan sapu yang ada di tangannya. Kemudian mengajak Wak Kamrun untuk duduk di teras musolla, “Begini, Run” ucap Kiai Tamijo memulai penjelasannya, “saat ini kita sedang dalam situasi perang. Situasi genting, dan penutupan musholla merupakan salah satu strategi kita dalam memenangkan perang ini”
“Perang?” Wak Kamrun terbelalak mendengar kata perang diucapkan Kiai Tamijo
“Betul, Run. Perang melawan Corona. Jangan kau kira ini hanya terjadi di desa Karang Kadempel ini. Situasi ini terjadi di seluruh dunia, Run. Jangankan musolla kita, Run, Masjidil haram saja juga mengalami ditutup kok”
Wak Kamrun, lelaki penjual Cilok yang sudah sebulan pensiun itu terlihat manggut-manggut. Ia rmeogohkan tangan ke saku bajunya untuk mengambil rokok. Namun ketika sadar bahwa dirinya sedang puasa, ia pun mengurungkan niatnya untuk merokok tersebut.
“Saya sedih, Kiai” ucap Wak Kamrun “Ronadlon saat ini sepi, tak ada terawih, tidak boleh Jum’at an, sepi tadarus. Juga, tak ada suara mercon terdengar”

Kiai Tamijo mendesah, setelah menggaruk betisnya yang gatal, Imam musolla di Karang Kadempel itu berkata,
“Bukan kamu saja yang merasa sedih, Run, semua merasakan dampaknya. Namanya saja situasi perang. Tapi tidak ada gunanya menyalahkan pihak lain atas situasi ini. Pun tidak perlu kita ber-asumsi yang tidak-tidak. Misalnya, berasumsi bahwa keadaan ini adalah ulah yang disengaja oleh oknum atau pihak tertentu. Hal itu malah akan membuat pikiranmu keruh. Yang terjadi memang harus terjadi”
Wak Kamrun manggut-manggut, “Tapi, Kiai, bukanlah kondisi semacam ini akan mengurangi kemeriahan dan kesemarakan bulan romadhon?”
“Justru sebaliknya” jawab Kiai Tamijo “kondisi seperti sekarang ini malah akan menambah ke-khusukan dalam menjalankan ibadah puasa. Karena hakikat puasa adalah menahan diri. Kita jadi punya banyak waktu untuk berdiam diri di rumah, menahan diri, bukan saja dari makan dan minum atau yang membatalkan puasa, tapi juga dari hal-hal tak penting dan kurang bermanfaat yang sering kita lakukan.”
“Baiklah,yi, terima kasih atas penjelasannya. Sebentar lagi tiba waktu berbuka puasa. Saya mohon diri, sebenarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan pada Kiai.”

“Besok ke sini lagi, kita sambung percakapan ini, Run” ucap Kiai Tamijo
“Baik, yi…”

* Penulis adalah founder PPV AL HIDAYAH, anggota komisi dakwah MUI Kabupaten Gresik_

Comments are closed.