Kisah Dimyati, Lulusan at-Taubah yang Istiqomah Ngaji di Rutan

0
15
Foto : Moh Dimyati (kanan) saat berbincang santai dengan Kepala Sekretariat MUI Kabupaten Gresik Ali Mahmud, di Kantor MUI Gresik. (Foto : Zainal/cakrawalamuslim)

CAKRAWALA MUSLIM – Menjalani masa hukuman memang berat, seperti yang dialami oleh Moh Dimyati, pria 50 tahun asal Banyuwangi, yang harus merasakan dinginnya tembok Rutan Gresik, selama dua tahun karena kasus hukum.

Namun hal itu tidak membuat Ia patah arang, malahan Ia bersyukur, karena di Rutan Gresik, Ia dipertemukan dengan Pesantren at-Taubah.

“Alhamdulillah banyak hikmah selama saya di Rutan, akhirnya bisa mengaji di Pesantren at-Taubah, saya secara langsung belajar Al-Qur’an pada Ustadz Sonhaji,” jelas Dimyati, saat mendatangi Kantor MUI Gresik, pasca bebes dari Rutan, Kamis, (4/7/2024).

Dimyati juga mengungkapkan, selama di Rutan, Ia juga dapat istiqomah ibadah wajib dan sunnah, hal yang tidak pernah bisa Ia lakukan sebelumnya.

“Selama di Rutan, saya bisa khatam al-Qur’an beberapa kali, serta istiqomah membaca Surat Yasin, ar-Rohman, al-Waqiah dan al-Mulk,” jelasnya.

Secara khusus, Dimyati mengapresiasi keberadaan Pesantren at-Taubah di Rutan Gresik, karena ditengah keterpurukan, para warga binaan dapat belajar mengaji, serta mendapat bimbingan keagamaan.

“Bahkan ada salah satu teman saya di Rutan, yang awalnya tidak bisa mengaji sama sekali, akhirnya mau belajar dari awal, mulai alif ba’ tha’,” jelas Dimyati.

Karena perubahan sikap itu pulalah, Dimyati yang mendapat hukuman 2 tahun 10 bulan, akhirnya mendapat keringanan 8 bulan, dan saat ini telah bebas, dan berencana kembali ke Banyuwangi, kampung halamannya.

Perlu diketahui, Pesantren at-Taubah adalah pesantren yang didirikan di Rutan Kelas IIB Gresik, oleh MUI Kabupaten Gresik, bersama Baznas dan Rutan Gresik, pada tahun 2016.

Semangat at-Taubah, adalah mengambil peran penting dakwah bagi kaum yang termarjinalkan, karena bagaimanapun, orang-orang yang kurang beruntung, ini sangat membutuhkan sentuhan da’i-da’i yang membawa nafas kedamaian Islam.

Melalui MUI, terdapat 4 (empat) Ustadz dan 4 (empat) Ustadzah yang menjadi tenaga pengajar keagamaan di Pesantren at-Taubah.

Adapun beberapa materi keagamaan yang diajarkan antara lain, Tahfidz dan Tartil al-Qur’an, Fiqih dan praktiknya, Aqidah Akhlaq, Bimbingan Konseling, serta Istighotsah.

Kegiatan tersebut, dilaksanakan pada hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis, serta khusus untuk Istighotsah, dilakukan satu bulan sekali. (is/cm)