Menengok Pesantren Attaubah Desa Sidowungu yang Merehab Pencandu Narkoba dengan Dzikir dan Istigosah

206
540
Puluhan Santri Attaubah saat berfoto bersama.

Pesantren biasanya identik dengan orang-orang yang menimba ilmu dan mengaji ilmu nahwu atau shorof. Namun berbeda dengan Pesanten Attaubah atau Pondok wong Bodoh yang ada di Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti.

Setidaknya sudah ada 141 orang yang menyantri ingin sembuh dari ketergantungan narkoba. Mereka mayoritas berasal dari Desa Sidowungu.

Para santri yang datang selain menimba ilmu juga ingin sembuh dari ketergantungan narkoba. Caranya unik, santri diajak dzikir dan istighosah setiap hari. Bahkan selayaknya pesantren, sholat wajib berjama’ah menjadi rutinitas setiap hari.

Semua kegiatan harus dijalankan. Sebab itu akan melatih si santri untuk belajar kedisplinan. Bagi santri yang tidak menjalankan kegiatan, pengurus akan menindak dengan menakzir atau menghukum.

Pengasuh pesantren Attaqwa Gus Sukoiri mengatakan pendirian pesantren ini bermula atas keresahan dirinya terkait kondisi anak muda di desanya. Pasalnya banyak anak muda dengan usia produktif kecanduan barang haram tersebut.

Suatu kebetulan pengasuh pesantren ini juga merupakan kepala desa setempat, jadi bunyi perang dengan narkoba disuarakan melalui pemerintahan desa. Jadilah banyak kalangan ikut mendukung gerakan ini. Hal itu agar di desanya bebas dari narkoba.

“Pertama karena kepedulian kita terhadap generasi muda. Akhirnya saya buat Perdes supaya melegitimasi secara aturan. Setiap bulan kami juga mengadakan tes urin kepada semua warga khususnya anak muda,” kata Sukoiri, Rabu (6/5/2020).

Kemudian lewat cara apa Kades nyentrik ini menyembuhkan santri-santri dari ketergantungan narkoba. Pertama, santri yang baru datang dan tergolong berat akan ditangani secara khusus. Mereka akan diberikan wejangan supaya sugesti yang ada di dalam dirinya menerima. Mirip seperti metode rukyah.

Kedua, santri akan setiap hari menjalankan ibadah wajib secara berjama’ah. Berlanjut dengan dzikir dan istighosah tetap mengiringi setiap selesai sholat berjama’ah. Menurut Sukoiri penyembuhan dengan berdzikir menyebut nama Allah adalah cara yang paling jitu.

“Lalu setiap malam mereka diminta untuk berendam air di sendang, itu kata guru saya bisa mengembalikan sarap yang sudah putus. Ini sangat manfaat sekali untuk proses penyembuhan,” jelasnya.

Kata Gus Sukoiri untuk bisa sembuh dari ketergantungan narkoba, santri setidaknya harus mengikuti kegiatan pesantren selama 4 bulan. Apalagi selama proses penyembuhan, santri tidak dimintai untuk membayar apapun. Semua gratis untuk membantu masyarakat yang ingin sembuh dari barang haram itu.

“Manfaat kesembuhannya banyak sekali, dari sebelumnya berantem sama istri, sembuh sudah baikan lagi. Artinya obat itu sangat membuat kehidupan jadi berantakan. Kerja tidak fokus, rumah tangga hancur,” jelasnya.

“Jika santri ini sudah bisa diajak ngomong dengan normal berarti dia sudah sembuh. Sebab ciri orang pengguna itu biasanya dilihat dari dia susah nyambung kalau diajak komunikasi terus sering emosi,” katanya.

Selain mengikuti kegiatan pesantren seperti dzikir dan istighosah, santri juga diwajibkan untuk olahraga rutin. Menurut Sukoiri, kunci untuk membebaskan dari candu adalah hidup sehat. Yaitu pikiran dan badan juga harus dibuat sehat.

“Harapannya, setelah santri keluar dari pesantren bisa menjadi duta anti narkoba, mengajak dan berdakwah agar kalangan mudah lainnya tidak terjerumus dalam narkoba lagi. Karena barang itu selain musuh negara juga musuh agama,” pungkasnya.

Sementara itu salah satu santri Muhammad Abbas (37) warga Sidowungu mengatakan dirinya sudah berhenti total sejak mulai mengenal narkoba tahun 2010 silam. Ia sudah satu bulan menjalani ritual di tempat tersebut dam merasakan perubahan pada dirinya.

“Alhamdulillah sudah berubah, perasan lebih enak. Yang dulu sejak kenal narkoba  biasanya nyaris hampir tidak puasa bulan Ramadhan ini bisa berpuasa baru ini,” katanya. (sah/M)

Comments are closed.