Beban Ulama’ Gresik

691
1567

Oleh: Dr. Abdul Chalik[1]

Gresik memiliki sejarah yang panjang sebagai kota wali dan santri. Sebagai kota wali, Gresik tidak dapat dilepeskan dari posisi makam Siti Fatimah b. Maimum  di Leran (w. 1292), yang dianggap sebagai penyebar Islam pertama kali ke tanah Jawa. Dilanjutkan dengan Malik Ibrahim (w. 1419), seorang ulama’ dari Samarkand Usbekistan yang datang, menyiarkan Islam dan meninggal di Gresik. Dilanjutkan dengan Sunan Giri, putera Blambangan yang lahir tahun 1442. Dari wali yang terakhir inilah Islam menyebar luas ke berbagai pelosok di Jawa bahkan ke luar Jawa.

Tidak berhenti di situ, dan anak dan keturunan wali besar tersebut, muncul beberapa nama ulama’ yang melanjutkan titah perjuangannya. Beberapa makam yang juga dikeramatkan di Gresik  merupakan keturunan atau keluarga dari para Sunan. Hingga kini masyarakat meyakini bahwa mereka dan anak keturunannya merupakan waliyullah, makhluk pilihan Allah yang keberadannya wajib dihormati.

Sebagai akibat dari perjalanan panjang dalam menyebarkan Islam di Gresik, Sunan Giri mendirikan padepokan untuk para pengikut dan punggawa kerajaan. Padepokan tersebut sebagai tempat istirahat, berlindung dari terik panas dan hujan, sekaligus sebagai tempat belajar agama. Padepokan tersebut pada masa selanjutnya merupakan cikal-bakal pondok pesantren, sebuah tempat  dimana santri singgah dalam waktu lama untuk belajar agama. Pada era sekarang, muncullah pondok pesantren yang kita kenal dan menyebar di beberapa tempat di Gresik.

Wali dan santri merupakan sejarah yang melekat dengan Gresik. Gresik tidak dapat dilepaskan dengan dua akronim tersebut sebagai sejarah panjang dalam membentuk mental dan peradaban Gresik. Maka sudah menjadi kewajiban ketika pemerintah Daerah Kabupaten Gresik menjadikan simbol wali dan Santri sebagai locus, pintu masuk, dan brand dalam membangun Gresik.

Mengapa Gresik? Sebelum Wali Songo datang dan menyebarkan Islam, Kerajaan Majapahit (1293-1500) terlebih dahulu sudah menguasai Pantura, terutama Tuban, Gresik dan Surabaya. Pantura menjadi lalu lintas perdagangan yang sangat sibuk di eranya. Para pedagang internasional, termasuk dari Timur Tengah dan Asia Tengah juga masuk lewat Pantura. Selain berdagang, pada saat yang bersamaan juga tinggal dalam waktu cukup lama, dan sebagian lagi menikah. Dua momen tersebut digunakan oleh para pedagang untuk menyebarkan Islam. Inilah asal mula mengapa Gresik lebih dulu mengenal Islam dibandingkan dengan kawasan tengah dan selatan Jawa.

Singkat cerita, Gresik sudah lama menjadi menjadi kawasan yang sangat strategis sebagai pintu masuk menuju Surabaya dan Trowulan Mojokerto sebagai pusat kota Majapahit. Posisi Gresik tidak berhenti sampai di situ, tetapi ketika masa Belanda, Gresik yang masuk Karesidenan Surabaya sudah menjadi lokasi penyanggah metropolitan Surabaya. Hingga kini, poisisi Gresik tidak dapat tergantikan oleh kawasan lain sebagai lokasi yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan industri dan jasa.

Sebagai kota pesisir, penyanggah metropolitan, kota industri, kota jasa, maka ‘menjadi Gresik’ tidaklah mudah. Lalu lintas perdagangan, manusia dan modal menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Mobilitas manusia dari waktu ke waktu ibarat sebuah mesin, tidak jauh dengan kondisi Surabaya.

Bersamaan dengan posisi Gresik yang demikian itu, maka banyak persoalan pula yang dihadapinya. Persoalan sosial—sebagai akibat dari mobilitas manusia juga terus bermunculan. Desa dan kota tidak memiliki sekat lagi. Pendatang dan pribumi juga sudah menyatu. Hukum dan budaya menjadi longgar. Sensitifitas pada nilai-nilai agama mulai berkurang. Kontrol sosial menjadi rendah. Gresik ibarat dulang besar yang berisi campuran makanan dengan segala rasa. Dalam posisi ini, banyak yang terus berteriak mempertanyakan jargon kota Wali dan Santri. Masih pantaskah jargon tersebut disandang oleh Gresik?

Wali, Santri dan Industri merupakan sesuatu yang berbeda. Perbedaannya sangat jelas. Yang satu berbicara nilai yang satunya lagi berbicara investasi, modal, profit, keuntungan. Yang satu berbicara soal urusan akhirat, yang satunya urusan dunia. Yang satu berurusan dengan urusan ibadah, wirid, tahlil, manaqib, ngaji, khotbah dan yang satunya lagi bersinggungan dengan deru mesin pabrik, mobilitas manusia dan modal serta segala pernak-pernik kehidupan yang serba profan.

Inilah kenyataan yang harus dihadapi oleh Gresik. Tidak mudah menjadi Gresik, kota yang sangat penting dalam sejarah Islam nusantara, dan sekaligus sebagai kota industri, kota yang menjadi tumpuhan hidup banyak manusia. Tidak mudah membawa beban sejarah keislaman nusantara, dan tidak mudah pula memadukan antara urusan kesantrian dan keindustrian.

Karena sebagai kota industri dengan segala gemerlap dan mobilitas manusia, modal dan barang yang tinggi itulah, Gresik sering dihadapkan oleh situasi yang ironis. Saat ini sudah sulit membedakan Gresik yang santri dengan masyarakat lain di luar Gresik. Penyimpangan prilaku sosial, baik generasi muda maupun tua tidak ada bedanya dengan daerah lain. Tindak kejahatan yang terjadi Gresik  tidak ada ubahnya dengan masyarakat lain. Inilah yang terjadi.

Lalu siapa yang bertanggung jawab, siapa yang harus mengemban berat ini, siapa yang harus berada di avant gate menjaga Gresik yang suci ini? Inilah pertanyaan yang selalu menjadi pikiran. Retorika dan wacana sering kali menggelinding, dan hanya berujung pada “keprihatinan” semata, tanpa mampu berbuat apa-apa. Kata seorang teman, masih untung mau prihatin, dari pada sama sekali cuek dan menganggap semua yang terjadi sebagai akibat alamiah manusia. Evolusi !, begitu kira-kira pandangan konyol itu.

Lagi-lagi ulama’ yang (terpaksa) menjadi martir atas revolusi industri, atas kapitalisasi yang selalu mengatasnamakan “demi rakyat” dan “kesejahteraan”. Ulama’ (dipaksa) untuk menjaga heritage kejayaan Islam masa lalu atas nama kota Wali dan Santri, dan sekaligus ulama menjadi martir atas negative impact industri—dampak dari deru mesin industri. Lagi-lagi ulama’ yang harus noto prilaku asocial anak-anak muda—dimana mereka lahir di saat kanan kiri rumahnya sudah tidak lagi nyaman menjadi hunian yang pantas, karena mobilitas manusia begitu deras dan deras. Kanan kiri rumahnya bukan lagi sanak saudara, tetapi para pendatang yang tidak paham budaya dan sejarah sosial Gresik. Lagi-lagi ulama’ yang yang menjadi tumpuhan para pemimpin yang tidak lagi mampu membendung perubahan kota yang begitu cepat atas nama industrialisasi, urbanisasi, dan penyakit hedonis yang menjangkiti rakyatnya.

Ulama’ –sebuah nama yang selalu menjadi harapan semua pihak. Baik ulama’  secara personal, pimpinan pesantren atau pimpinan organisasi sosial keagamaan—merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari terminologi ulama’ dimaksud. Darinya beban dan tanggung jawab itu selalu muncul.

[1] Pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Pascasarja UINSA Surabaya.

Comments are closed.